Home

Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Saya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Maret 2014

Sepakbola dalam negeri

OK minggu ini saya akan membahas tentang Sepakbola dalam negeri. Kita akan kupas dari sejarah perkembangan hingga pemain pemain muda masa depan indonesia.



Sejarah singkat sepak bola Indonesia.

Pada tahun 1930-an, di Indonesia berdiri tiga organisasi sepak bola berdasarkan suku bangsa, yaitu Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang lalu berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) pada tahun 1936 milik bangsa Belanda, Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB) milik seseorang yang berketurunan Tionghoa, dan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia milik bumiputra. Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) sebuah organisasi sepak bola orang-orang Belanda di Hindia Belanda menaruh hormat kepada PSSI lantaran SIVB yang memakai bintang-bintang dari NIVB kalah dengan skor 2-1 melawan VIJ.
NIVU yang semula memandang sebelah mata PSSI akhirnya mengajak bekerjasama. Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan Gentlemen’s Agreement pada 15 Januari 1937. Pascapersetujuan perjanjian ini, berarti secara de facto dan de jure Belanda mengakui PSSI. Perjanjian itu juga menegaskan bahwa PSSI dan NIVU menjadi pucuk organisasi sepak bola di Hindia Belanda. Salah satu butir di dalam perjanjian itu juga berisi soal tim untuk dikirim ke Piala Dunia, dimana dilakukan pertandingan antara tim bentukan NIVU melawan tim bentukan PSSI sebelum diberangkatkan ke Piala Dunia (semacam seleksi tim). Tapi NIVU melanggar perjanjian dan memberangkatkan tim bentukannya. NIVU melakukan hal tersebut karena tak mau kehilangan muka, sebab PSSI pada masa itu memiliki tim yang kuat. Dalam pertandingan internasional, PSSI membuktikannya. Pada 7 Agustus 1937 tim yang beranggotakan, di antaranya Maladi, Djawad, Moestaram, Sardjan, berhasil menahan imbang 2-2 tim Nan Hwa dari Cina di Gelanggang Union, Semarang. Padahal Nan Hwa pernah menyikat kesebelasan Belanda dengan skor 4-0. Dari sini kedigdayaan tim PSSI mulai kesohor.
Atas tindakan sepihak dari NIVU ini, Soeratin Sosrosoegondo, ketua PSSI yang juga aktivis gerakan nasionalisme Indonesia,sangat geram. Ia menolak memakai nama NIVU. Alasannnya, kalau NIVU diberikan hak, maka komposisi materi pemain akan dipenuhi orang-orang Belanda. Tapi FIFA mengakui NIVU sebagai perwakilan dari Hindia Belanda. Akhirnya PSSI membatalkan secara sepihak perjanjian Gentlemen’s Agreement saat Kongres di Solo pada 1938.
Maka sejarah mencatat mereka yang berangkat ke Piala Dunia Perancis 1938 mayoritas orang Belanda. Mereka yang terpilih untuk berlaga di Perancis, yaitu Bing Mo Heng (kiper), Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermadji, Anwar Sutan, dan Achmad Nawir (kapten). Mereka diasuh oleh pelatih sekaligus ketua NIVU, Johannes Mastenbroek. Mo Heng, Nawir, Soedarmadji adalah pemain-pemain pribumi yang berhasil memperkuat kesebelasan Hindia Belanda, tetapi bertanding di bawah bendera kerajaan Nederland.

Era 1950

Setelah era Perang Dunia kedua, pada tahun 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan mereka pada tanggal 17 Agustus 1945.
Setelah itu, sepak bola Indonesia mengalami kemajuan di Asia. Mereka berhasil lolos ke Olimpiade Melbourne 1956. Indonesia berhasil melaju ke perempat final dan bertemu dengan raksasa dunia ketika itu, Uni Soviet yang ketika itu dikapteni oleh kiper terbaik dunia ketika itu, Lev Yashin. Ketika itu mereka berhasil menahan Uni Soviet 0-0. Namun pada akhirnya Indonesia harus kalah dengan skor 4-0 pada pertandingan kedua. Prestasi ini adalah prestasi tertinggi Indonesia dalam sejarah sepak bola di Indonesia.
Pada tahun 1958, Indonesia juga merasakan hasil terbaik di Kualifikasi Piala Dunia 1958 dimana Indonesia berhasil mengalahkan China pada ronde pertama. Namun mereka menolak untuk bertanding melawan Israel pada ronde kedua dikarenakan alasan politis. Sejak saat itu, Indonesia tidak pernah ikut dalam kualifikasi piala dunia hingga tahun 1970.
Uniknya, setelah bertanding di kualifikasi piala dunia, Indonesia berhasil meraih medali perunggu di Asian Games 1958 setelah pada perebutan tempat ketiga berhasil mengalahkan India 4-1.

Era 1960-1970

Pada era ini, lahirlah pesepak bola Indonesia yang terkenal di Asia antara lain Soetjipto Soentoro, Max Timisela, Jacob Sihasale, Kadir, Iswadi Idris, Andjiek Ali Nurdin, dan Yudo Hadianto. Diantara mereka yang paling fenomenal adalah Soetjipto Soentoro. Ia adalah pemain tersukses di Indonesia dengan membawa Indonesia menjadi raja sepak bola Asia.
Ketika itu Indonesia berhasil menjuarai berbagai turnamen yaitu Turnamen Merdeka 1961, 1962, 1969, Piala Emas Agha Khan 1966, dan Piala Raja 1968. Indonesia juga berhasil meraih medali perak dalam Asian Games 1966.
Bahkan pemain Indonesia ada yang dipanggil AFC untuk menjadi bagian dari skuat Asia All Stars pada tahun 1967-1968. Mereka adalah Soetjipto Soentoro yang bertindak sebagai penyerang bayangan sekaligus sebagai kapten, Jacob Sihasale sebagai penyerang tengah, Iswadi Idris bertindak sebagai penyerang sayap kanan, dan Kadir sebagai penyerang sayap kiri. Ketika itu, mereka adalah kuartet tercepat yang pernah dimiliki Indonesia.

Era 1970-1990an

Era ini merupakan era dimana sepak bola Indonesia masih menjadi negara terkuat di Asia. Indonesia berhasil menjuarai Piala Pesta Sukan 1972 di Singapura untuk terakhir kali. Namun Indonesia sempat berjaya ketika mereka berhasil mengalahkan tim asal Amerika Latin, Uruguay.
Ketika itu Indonesia berhasil mengalahkan Uruguay dengan skor 2-1. Beruntung ketika itu, Indonesia memiliki pemain yang bertalenta yang sangat mumpuni seperti Ronny Paslah, Sutan Harhara, Ronny Pattinasarany, Risdianto, Andi Lala, Anjas Asmara, Waskito dan pemain bekas angkatan Soetjipto Soentoro.
Setelah itu sepak bola Indonesia berangsur mengalami penurunan. Terakhir mereka menjuarai SEA Games 1991 di Manila, Filipina. Di kualifikasi Piala Dunia, prestasi terbaik hanya diraih ketika Indonesia berhasil lolos ke putaran final. Namun harus kandas di tangan Korea Selatan dengan agregat 1-6.
Di Asian Games, Indonesia berhasil meraih medali perunggu setelah menembus semifinal tetapi kalah dari Kuwait pada partai perebutan tempat ketiga. Pemain pada masa itu yang terkenal adalah Ricky Yakobi. Tendangannya volinya yang mengejutkan lawan ketika Indonesia melawan Uni Emirat Arab dengan jarak yang cukup jauh di luar kotak penalty.

Piala Asia

Di kancah Piala Asia Indonesia pertama kali tampil di putaran final pada tahun 1996 di Uni Emirat Arab (UAE). Indonesia berhasil membuat kejutan di pertandingan pertama dengan berhasil menahan imbang Kuwait 2-2, tetapi akhirnya tersingkir di penyisihan grup setelah kalah 2-4 dari Korea Selatan dan kalah 0-2 dari tuan rumah UAE. Indonesia meraih kemenangan pertama pada tahun 2004 di China setelah menaklukkan Qatar 2-1. Yang kedua diraih ketika mengalahkan Bahrain dengan skor yang sama tahun 2007, saat menjadi tuan rumah turnamen bersama Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Piala AFF

Di kancah Asia Tenggara sekalipun, Indonesia belum pernah berhasil menjadi juara Piala AFF (dulu disebut Piala Tiger) dan hanya menjadi salah satu tim unggulan. Prestasi tertinggi Indonesia hanyalah tempat kedua pada tahun 2000, 2002, dan 2004, dan 2010 (dan menjadikan Indonesia negara terbanyak peraih runner-up dari seluruh negara peserta Piala AFF). Di ajang SEA Games pun Indonesia jarang meraih medali emas, yang terakhir diraih tahun 1991.

Ok setelah kita ulas tadi tentang sejarah singkat sepakbola indonesia mari kita lihat sapa saja pemain sepak bola muda yang akan menjadi pemain sepak bola indonesia masa depan. Indonesia sebenar nya punya banyak pemain muda yang malah bersinar di luar negeri dan hampir tidak terkenal di negeri nya sendiri. Di antara mereka malah ada yang memiliki prestasi luar biasa dan mendapat tawaran menjadi pemain timnas negeri lain.

Saya akan menyebut kan beberapa orang dari mereka 

Namanya Khuwailid Mustafa Ibrahim. Bocah asli Indonesia kelahiran Aceh, 29 Januari 2000. Saat ini, Khuwailid tengah merumput di Liga Qatar membela Lekhwiya SC U-14. Selain tergabung di Lekhwiya SC, Khuwailid juga tergabung di Aspire Football Academy Qatar.








Perjuangan Andri Syahputra meniti karier sepak bola sejak usia tujuh tahun di Qatar mulai menunjukkan bintang terang. Kini, di usianya yang menjelang 15 tahun, Andri yang bermain di klub Al-Gharafa Sports Club U-14 dan tergabung dalam Aspire Football Academy Qatar berkesempatan merumput di La Liga BBVA U-16.






Kamis, 06 Maret 2014

Kaderisasi Organisasi Saat Masa Kuliah part 2

OK hari ini kita lanjutin pembahasan kita kemaren di postingan

"Kaderisasi Organisasi Saat Masa Kuliah part 1"

Pada hari ini saya akan membahasan cara cara membentuk kader kader yang berkualitas tanpa kekerasan. Seperti yang kita bahas di postingan saya sebelum nya saya , organisasi yang baik memiliki banyak ragam kader dan setiap kader memiliki penanganan yang berbeda tergantung dari potensi potensi yang mereka miliki. Sebelum kita mengembangkan potensi mereka kita harus tau dahulu apa yang menjadi potensi mereka dan treatment apa yang layak kita berikan pada mereka. Ada baik nya kita sudah merencanakan treatment dasar untuk pengembangan potensi mereka semisal pengembangan pola pikir, panduan dasar organisasi, loyalitas dan totalitas pada organisasi. Treatment dasar ini harus di berikan kepada semua kader nantinya.

Cara - Cara

Ingat postingan saya hanya pemikiran dan pendapat saya.

Pertama "Sambut mereka dengan hangat"

Penyambutan hangat, layak nya seseorang yang baru hadir dalam keluarga kita. Jika kita melihat sebuah keluarga mendapat seorang anggota baru , mereka baru memiliki bayi tentu mereka akan merawat dan menyambut dengan hangat. Bayi sering menangis apa bila menemukan orang orang baru dalam keluarga itu karena mereka belum mengenalinya, dan sebagai orangtua pastilah akan mencoba untuk mengenalkan orang orang tersebut dengan si bayi tadi dengan cara yang khusus dan dapat diterima si bayi. Jika kita memposisikan Bayi sama dengan Kader baru dalam organisasi kita maka hal pertama yang wajib kita lakukan sambut mereka dengan hangat, buat mereka nyaman dalam organisasi kita , kenalkan mereka apa apa yang ada di organisasi kita.

Kedua "Keluarkan Potensi Mereka, Kenali Mereka"

Keluarkan Potensi Mereka, Kenali Mereka. Kata kata itu bukan bermaksud untuk kita para kader lama kenalan satu per satu ke kader baru haha. Maksud saya pada judul diatas adalah mengenali karakter mereka dan bagaimana tingkah polah mereka dalam ke organisasian. Nah, mari saya bahas bagaimana mengeluarkan potensi mereka dan mengenali mereka.

Ketika seseorang di posisikan dalam kondisi terdesak maka mereka akan mengeluarkan seluruh kemampuan mereka, potensi potensi mereka terkadang tertutupi karena mereka sudah lama berada di zona nyaman nya mereka. Memang lah tidak mudah untuk mengeluarkan seseorang dari zona nyaman, mereka cenderung melarikan diri ketika mereka berada di zona yang tidak nyaman. Nah, dalam kondisi kaderisasi zona tidak nyaman itu bukan " ZONA KEKERASAN UNTUK KADER BARU" tapi zona dimana mereka bekerja lebih ekstra.

Pelibatan dan panitia penuh sebuah acara organisasi kita adalah cara paling cepat mengeluarkan potensi mereka dan tidak menggunakan kekerasan. Lalu, bagaimana jika acara tidak sukses atau sesuai target?. Ini bisa jadi akan menjadi pertanyaan yang akan sering keluar, jangan pernah menghukum dengan kekerasan ke kader baru karena itu dapat merusak pola pikir dan loyalitas mereka kepada organisasi. Cara yang tepat adalah dengan penerapan konsekuensi , berilah mereka konsekuensi yang mendidik dan mengajarkan mereka apa kesalahan mereka dan mengajari mereka secara tidak langsung bagaimana cara menyelesaikan masalah masalah mereka dalam memegang sebuah acara, ketika memegang sebuah acara hampir sama dalam memegang sebuah organisasi.

Dalam proses memegang acara organisasi ini harus dipilah lakukanlah pada acara acara internal organisasi hal ini untuk tidak memberikan kader baru tekanan dari luar organisasi. Pada saat memegang acara dengan kondisi tekanan dari target dan pencapaian acara, para kader baru bisa kita lihat apa potensi mereka Leadershipkah ? Mental kah ? atau Pemikirkah?.


sekian dulu hahaha , maaf kalo nanggung saya janji besok di sambung lagi ya sob sob haha .

Selasa, 04 Maret 2014

Kaderisasi Organisasi Saat Masa Kuliah part 1

Hai ketemu lagi ni ama saya ryan. Hari ini gak ada yang istimewa tapi saya harus tetap memposting di blog. Mungkin tugas nya memang sederhana memposting 1 postingan per hari , tapi itu cukup membuat susah karena gak ada ide nya itu haha. Ya tapi kita harus jalani sajalah tugas kampus ini, semua niat baik akan mendapat manfaat baik.

Ok hari ini kita akan membahas dan mengulas sedikit tentang ,
" Kaderisasi Organisasi Saat Masa Kuliah ". hahaha berat banget kan ide saya hahaha. Saya mengangkat tema ini mungkin sedikit nge-flash back tentang sesuatu bernama " OSPEK " dan "Kekerasan Pada Saat OSPEK". Mungkin dua hal ini bukan hal yang tabu lagi dan sudah sering banyak ter ekspose oleh media masa contoh , kasus ospek di salah satu perguruan tinggi di Malang, Jawa Timur.

Posting ini bukan untuk menjelek-jelekan pihak tertentu, tapi guna menyampaikan pendapat saya
" HARUS SEPERTI APA KADERISASI YANG BAIK? ".
Permasalahan ini adalah yang paling sering muncul kalo ada mahasiswa baru mau masuk atau anggota organisasi baru mau masuk. Nah mari kita lihat pemikiran saya.

Kaderisasi Organisasi Saat Masa Kuliah

1. Arah Tujuan dan Proses Kaderisasi

Nah ini dia sebenar nya yang harus kita pikirkan, mau jadi apakah orang yang kita kaderisasi. Banyak pemikiran "Kaderisasi = Pembentukan Mental" padahal pada dasar nya dua hal tadi adalah sesuatu yang berbeda. Ketika kita ingin membangun suatu organisasi yang baik dan berkualitas kita otomatis harus mencetak kader yang bagus dan kata "Kaderisasi" adalah proses yang kita perlukan untuk mencetak kader yang berkualitas tersebut, dalam hal ini memang "Pembentukan Mental" memang di tujukan sebagai proses untuk mendapatkan goal "Kader Bermental Baja" tapi menurut saya ,
Organisasi yang baik bukan hanya memiliki "Kader Bermental Baja".
Organisasi yang baik memiliki banyak macam kader sesuai dengan kebutuhan mereka dan dapat memanfaatkan potensi dari setiap kader mereka. Hal-hal tadi adalah yang saya kira merupakan tujuan kaderisasi.

Dalam hal ini ketika kita memiliki banyak macam kader dan banyak potensi dari mereka, maka kita harus memiliki banyak jenis treatment untuk mengembangkan mereka bukan hanya "Pembentukan Mental" karena pasti setiap orang punya keunggulan dan daya tahan yang berbeda.

Maaf kalo gambar nya jelek dan gak jelas hehe , mari saya jelaskan.

Warna Kuning : Organisasi yang memiliki kader
Warna Orange : Kader dari Organisasi
Warna Merah : Sifat Mental Baja dari Kader
Warna Biru : Sifat Pemikiran Tajam dari Kader
Warna Hijau : Memiliki Mental dan Pemikiran (Leadership)

Seperti yang saya jelaskan diatas tadi Organisasi yang baik memiliki banyak macam kader sesuai dengan kebutuhan mereka dan dapat memanfaatkan potensi dari setiap kader mereka seperti kita lihat kita memiliki dua sifat dasar dari kader Mental Baja dan Pemikir Tajam , dan ketika kedua hal tersebut menjadi 1 maka kita akan dapatkan sifat Leadership. Pertanyaan yang timbul kenapa kita tidak memperbanyak Warna Hijau / Leadership bukan nya dengan itu kita dapat banyak orang yang berkualitas?.

Menurut saya ketika semua orang memiliki Leadership sapa yang akan menjadi PEMIMPIN dan sapa menjadi YANG DIPIMPIN , ketika kita hanya memiliki kader yang mempunyai Leadership maka kita akan kesulitan karena akan banyak hal terjadi  ketidak cocokan ide, perebutan kepemimpinan, dan lain-lain. Lalu "Mengapa kita membutuhkan kader yang memiliki sifat yang tidak lengkap ? ".

Ingat dengan kata-kata "Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani" 
"Di depan memberi teladan , di tengah membangun semangat , di belakang atau yang mengikuti memberi dukungan atau dorongan".

Ketika Seorang pemimpin dengan sifat Leadership dia mampu memimpin dan memberi teladan maka yang akan berada di tengah adalah anggota yang Bermental Baja yang memiliki semangat yang baik dan memberi mental juga sebagai pelindung dari pergerakan organisasi dan yang akan mendorong dan penyokong pemimpin dan anggota bermental baja adalah anggota dengan sifat Pemikir kenapa ? Pemikir bisa memberi bantuan dan dorongan terlebih ketika organisasi mempunyai problem yang tidak bisa di pecahkan oleh Leader dan Anggota lain.

Nah itu pendapat saya mungkin kalian memiliki pendapat lain. haha sekian dulu ya kita lanjut di hari esok ... capek banget sob ngetik .